| Pada era kemelut itu, sang Trisakti kabarnya diboyong ke Jakarta dan tak diketahui lagi di mana keberadaannya alias langlam. Setahun lalu, tepatnya 26 Januari 2007, dunia digemparkan oleh berita tentang penemuan intan di Sungai Kongo, Republik Demokratik Kongo yang terletak di bagian tengah Benua Afrika. Intan sebesar 143 karat itu ditemukan penambang bernama Amos Maseko, yang sebelumnya sering mendapat intan kecil senilai 1-3 karat. Namun penemuannya di Sungai Kongo sebesar 143 karat, kontan membuat dirinya kaya mendadak. Banua Banjar tak mau kalah. Persis di awal tahun 1 Januari 2008, kita digegerkan oleh penemuan intan sebesar pentol bakso di penambangan Desa Antaraku, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar yang beratnya diperkirakan 200 karat. Semula diberi nama Galuh Antaraku, tetapi kemudian diganti Putri Malu. Tentu saja nama pemiliknya yang menguasai pertambangan itu, Lihan, juga populer di masyarakat. Trisakti Mungkin Urang Banjar selalu teringat gegernya masyarakat di sini ketika menemukan intan Trisakti seberat 167 karat pada 16 Agustus 1965. Gegap gempita karena kehadirannya sang Trisakti hanya berbilang hari, sekonyong-konyong Pasar Batuah di Martapura ludes dilalap api termasuk semua toko yang berjual beli intan. Bukan hanya itu, sebulan kemudian meletus peristiwa pemberontakan G30S/PKI. Banua Banjar kena imbasnya, korban berguguran. Peracunan massal oleh PKI/Gerwani di Amuntai pada malam 30 September 1965 itu berhasil digagalkan. Pada era kemelut itu, sang Trisakti kabarnya diboyong ke Jakarta dan tak diketahui lagi di mana keberadaannya alias langlam. Maka, sebagian masyarakat Banjar selama ini merasa risih pada penemuan intan besar, yang membawa dampak bencana kepada umum. Ke Majapahit Membalik lembaran sejarah perintanan di Banua Banjar, dulu Patih Lambung Mangkurat bermuhibbah ke Majapahit untuk melamar putra kerajaan besar di Pulau Jawa itu sebagai pasangan Putri Junjung Buih di Negaradipa. Raden Putra mengubah namanya menjadi Pangeran Surianata, didampingi permaisurinya Putri Junjung Buih. Saat permaisuri hamil mengidam makan jambu dipa yang hanya ada di Majapahit. Perutusan Negaradipa yang dipimpin Nakhoda Lampung pergi ke Majapahit, dengan perantaran Patih Gajah Mada menyampaikan sejumlah tandamata untuk kerajaan di Pulau Jawa itu berupa damar, rotan, tikar, lilin dan dua butir intan besar yang tak disebutkan namanya. Si Misam Pada masa Pemerintahan Sultan Mustain Billah yang bergelar Penembahan Maruhum (1595-1626), terjalin persahabatan antara Kesultanan Banjar dengan Kesultanan Mataram. Sultan Mustain Billah pernah mengirim perutusan ke Mataram yang dipimpin Patih Dipati Tapasana dan Temenggung Reksanegara, untuk menyampaikan tanda persahabatan berupa hasil kerajinan rakyat Banjar. Di antaranya sebutir intan sebesar telur merpati bernama si Misam. Benda tanda persahabatan itu diterima dengan sukacita oleh Sultan Mataram. Badu dan Cempaka Pendulangan intan rakyat di Cempaka, Simpang Empat, Karang Intan dan tempat lainnya berjalan terus. Kalau penemuan intan kecil-kecilan 5-10 karat adalah biasa. Seperti halnya penemuan Galuh Badu (26,5 karat) dan Galuh Cempaka (26 karat). Kemana intan Borneo itu dijual? Tentu saja keluar negeri yang memiliki industri perintanan, seperti Amsterdam dan Antwerpen di Negeri Belanda. Menurut Stamford Raffles, tokoh penjajah Inggris di Indonesia (1818-1824), telah diekspor intan Banjar ke Eropa sebanyak 10 sampai 12 juta golden Belanda. Negeri Belanda menjadi bangga dan pongah atas hasil penjajahannya di negeri ini. Memang, cerita intan dari zaman ke zaman selalu menarik. Sebut saja intan Koh-i-Noor yang memiliki sejarah sendiri dalam kekeluargaan Raja Mogol dan Persia. Koh-i-Noor dalam Bahasa Persia artinya Gunung Cahaya. Sewaktu ditemukan beratnya 186 karat, setelah dibawa ke Inggris diasah dan tersisa 108,93 karat. Kini Koh-i-Noor adalah salah satu permata yang menghiasi mahkota Ratu Inggris. Cullinan mungkin satu-satunya intan terbesar di dunia, yang ditemukan pada 1905 di Transvaal, Pretoria. Beratnya tidak kepalang tanggung, 3.106 karat. Ia ditemukan oleh perusahaan tambang Premier Mine, milik Thomas Cullinan. Batu intan yang masih mentah itu oleh pemiliknya dihadiahkan kepada Raja Eduard VII di Inggris, yang kemudian menyuruh Firma Asers di Amsterdam (Belanda) membelahnya menjadi sembilan butir dan memprosesnya hingga sempurna. Salah satunya yang terbesar beratnya 530,2 karat diberi nama Bintang Afrika, yang kini tersimpan dalam perbendaharaan Kerajaan Inggris. Apakah Banua Banjar masih menyimpan permata intan yang bernilai sejarah warisan nenek moyang kita tempo dulu? Wallahu alam bissawab. Oleh: Yusni Anggraini Antemas Pemerhati Intan |